7 Predator Anak Berhasil Diringkus Polres Jayapura

Sentani (Sentani News)- Petugas Kepolisian Resort Jayapura melalui Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) herhasil menangkap tujuh pelaku kasus pemerkosaan terhadap anak di bawah umur,

Kapolres Jayapura AKBP Victor Dean Mackbon, S.H., S.IK., M.H., M.Si, mengungkapkan, anggota berhasil mengungkap kasus persetubuhan atau pemerkosaan terhadap anak di bawah umur dan menangkap tujuh pelaku dengan kejadian yang berbeda. Ke tujuh pelaku tersebut yakni HR (20), YM (27), YK (20), WW (34), RL (49), RW (27) dan NE (40).

Dalam menjalankan aksinya, ketiga pelaku yakni HR (20), YM (27 dan YK (20) yang dalam pengaruh minuman keras (Miras) melakukan penyekapan kemudian dibawa ke tempat sepi dan langsung melakukan pemerkosaan (persetubuhan) anak di bawah umur yang terjadi tepat pada pergantian tahun baru 1 Januari 2020 dengan korban kakak beradik di Jembatan Komba Sentani.

Kemudian, pelaku berinisial WW (34) dengan cara memaksa dan mengancam korban yang masih berusia 14 tahun yang merupakan anak tiri pelaku dan mengakibatkan korban hamil.

Sedangkan pelaku RL (49) memperkosa korbannya yang masih ada hubungan keluarga, dengan mengancam pelaku kemudian pelaku melakukan aksi bejatnya yang terjadi di Kampung Sereh. Kejadian pemerkosaan ini diketahui oleh ibu korban ketika memandikan anaknya, dimana ada bercak darah saat korban buang air besar.

Untuk pelaku RW (27) melancarkan aksinya dengan cara menyekap korban untuk menonton video porno dan langsung melakukan aksi bejatnya. Diketahui antara pelaku RW dan korban ini masih ada hubungan keluarga, serta kejadian ini terjadi di Kampung Yepase, Distriik Depapre.

Terus kasus terakhir berhasil diungkap itu adalah antara paman dengan keponakannya sendiri, dengan pelaku berinisial NE (40) yang terjadi di Kampung Ibub, Distrik Kemtuk Gresi.

Sementara untuk kasus oknum seorang guru olahraga berinisial SPP (29) yang mencekoki muridnya dengan Miras lalu diperkosa yang terjadi di Yapsi itu telah ditangani langsung oleh Polsek Kaureh.

“Memang kasus ini cukup menonjol dalam dua bulan belakangan ini. Yakni, di bulan Januari ada 7 kasus dan di bulan Februari (hingga pertengahan) ini ada 2 kasus. Yang mana, sebanyak 5 kasus telah diungkap dengan 7 tersangka. Sehingga masih ada 4 kasus yang masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan,” ujar Kapolres Jayapura AKBP Victor Dean Mackbon, S.H., S.IK., M.H., M.Si, didampingi Kasat Reskrim AKP Hendrikus Yossi Hendrata, SH, S.IK, saat menggelar press conference di Ruang Cycloop Mapolres Jayapura, Senin (17/2/2020) kemarin sore.

AKBP Victor menjelaskan umumnya predator anak yang berkaitan dengan kasus pelecehan seksual ini masih orang terdekat korban. Bahkan masih ada ikatan darah antara korban dengan tersaNgka, ada juga yang tinggal serumah dengan korban. Dari sejumlah kasus ini ada korban yang berusia 14 tahun yang hamil.

“Jadi 5 (lima) kasus ini memang cukup menjadi perhatian publik, karena penyebabnya ada yang karena minuman keras dan juga ada yang masih hubungan keluarga atau tinggal serumah,” jelasnya.

Periode bulan Januari hingga pertengahan bulan Februari tahun 2020, pihak Kepolisian dalam hal ini Polres Jayapura telah menangani sebanyak 9 kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.

Kapolres Victor memaparkan, dari jumlah 9 kasus pelecehan seksual tersebut lima diantaranya sudah diungkap, sedangkan 4 kasus lainnya sedang dalam proses penyelidikan dan penyidikan.

Dikatakannya, rata-rata usia anak dibawa umur yang mengalami kekerasan seksual bervariasi, mulai dari usia 8 tahun sampai dengan 14 tahun.

Menurut Kapolres Jayapura, kasus kekerasan seksual tersebut dilakukan oleh masing-masing pelaku di tempat yang berbeda dan status hubungan keluarga yang berbeda pula, dengan sebagian besar kasusnya terjadi pada bulan Januari.

Disinggung mengenai pasal yang dikenakan kepada para pelaku, Kapolres Jayapura menjelaskan, pelaku dikenakan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun.

“Adapun hubungan persaudaraan antara pelaku dengan korban, ada yang sebagai bapa tiri dan anak tiri, ada yang sebagai orang tua dan keponakan. Diantara semua kasus, satu kasus diantaranya menyebakan hingga korban hamil,” tandasnya.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian publik adalah, lanjut Kapolres, upaya penyelesaian yang dilakukan oleh pihak keluarga korban dengan keluaraga pelaku. Dimana, penyelesaian kasus dilakukan secara adat istiadat setempat.

“Publik perlu perhatikan bahwa, penyelesaian kasus kekerasan seksual terhadap anak yang cenderung diselesaikan secara kekeluargaan atau melalui adat itu tidak akan memberikan efek jerah bagi pelaku. Sebab itu, serahkanlah sepenuhnya ke ranah hukum, supaya ada efek jerah,” imbuhnya.(fuad/pri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s