Hutan Sagu Terbakar, Pelaku Seni Minta Pemkab Jayapura Tanggapi Serius

Sentani (Sentani News) – Kebakaran hutan dan lahan dari tahun ke tahun selalu menjadi masalah di Indonesia, tidak terkecuali kebakaran hutan yang melanda sebagian hutan sagu di Papua terlebih khususnya di Kabupaten Jayapura yang belakangan marak terjadi.

Sayangnya dari tiga jenis undang-undang, yakni Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Panduan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup tidak berhasil memberikan efek jera kepada para pelaku pembakaran hutan dan lahan.

Kondisi tersebut menarik perhatian para pelaku seni berkomentar, sebut saja Vicky Smith selaku Ketua Komunitas Musik Pop Jayapura itu menuturkan bahwa kebakaran hutan sagu ini perlu ada tanggapan serius oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura dalam hal ini dinas tetkait. Karena sagu ini merupakan makanan pokok orang asli Papua (OAP) yang tidak bisa di hilangkan begitu saja.

“Kami sebagai pelaku seni sangat menyayangkan hal ini. Untuk itu saya pikir kalau memang alasan pembakaran hutan sagu untuk pembangunan jalan, bagunan rumah dan lain sebagainya, tentunya harus di sosialisasikan dulu kepada masyarakat sekitar. Agar masyarkat bisa memahami baik, tentang apa maksut dan tujuan dari pembakaran tersebut. Karena sagu ini merupaka makanan tradisonal oarang Papua yang tidak akan pernah hilang,” ucap Vicky Smith kepada Sentani News saat ditemui di Pilos Caffee Sentani, Kamis (27/2/2020) siang.

Sebagai orang seni dan pemerhati musik di Jayapura, Vicky melihat sagu bukanlah hal yang sepele. Tetapi sagu ini merupakan hal yang harus jadi perhatian Pemerintah, mengingat keberadaan sagu sudah ada sejak dulu hingga sekarang, dengan segudang manfaat di dalamnya.

“Saya sebagai pelaku musik menilai terbakarnya hutan sagu ini membuat saya merasa sangat kehilangan. Karena kita tahu bersama manfaat dari dari pohon sagu ini sangatlah besar, dari daunnya hingga sampai akarnya memiliki manfaat tersendiri yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat lokal,” ujarnya.

“Bagi saya sagu itu penting karena sudah menjadi darah daging saya maupun orang asli Papua. Untuk itu saya sebagai pelaku seni sangat berharap Pemerintah bisa lebih bijak menggapi persoalan ini . Artinya berilah sosialisasi kepada masyrakat , supaya masyarakat tau apakah nanti ada pengantinya atau kah pembangunan yang masuk ke lokasi sagu itu apakah ada manfaatnya atau tidak bagi masyarakat setempat. Kalau memang ada manfaatnya berarti boleh-boleh saja, tetapi kalau tidak berarti kita akan rugi besar atau kehilangan jadi lebih baik tidak boleh. Karena itu sama saja membunuh kami,” ungkapnya.(tinus/pri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s