Sonny Wanimbo : Pelestarian Kemandirian Pangan Warisan Leluhur Masyarakat Papua Di Tengah Pandemik Covid-19

Jayapura (Sentani News) – Pandemik Covid 19 telah menjadi momok bagi kehidupan manusia di tahun 2020 ini. Virus mematikan ini telah menyerang setidaknya lebih dari 2 juta penduduk dunia hingga saat ini, dengan kematian yang melebihi angka 200 ribu nyawa.

Demikian hal itu di ungkapkan Ketua DPRD Kabupaten Tolikara, Sonny Wanimbo, S. IP kepada Sentani News melalui via Selulernya, Selasa (21/4/2020) sore.

“Tentunya kita ketahui bersama bahwa Virus ini secara khusus menyerang saluran pernapasan manusia, dan dapat ditularkan dari manusia ke manusia, atau melalui media lain yang digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tidak heran jika begitu cepatnya Virus ini menyebar. Oleh sebap itu saat ini hampir semua pemerintahan dunia memberhentikan berbagai aktifitas publik, melarang interaksi antar manusia di ruang publik agar mata rantai Virus ini bisa terhenti, dan kenyataannya dampak yang ditimbulkan tidak sedikit. Untuk itu saya menyebutnya sebagai masalah pengiring Covid 19, yang muncul dan turut menjadi momok,” pungkas Sonny Wanimbo.

Kata Sonny, ketakutan akan dampak kesehatan hingga ketakutan pada kematian membuat hampir semua orang terjebak dalam rasa takut itu sendiri, kecemasan, dan kepanikan, dan semua orang berpikir bagaimana menyelamatkan diri dan keluarganya dari ancaman Virus ini.

“Jadi Inilah masalah pengiring yang saya maksudkan. Semua orang berlomba memborong masker, sabun cuci tangan, sarung tangan, hand sanitizer, vitamin, hingga bahan makanan dan minuman, dari berbagai pusat perbelanjaan hingga kios-kios kecil, dan dari apotik hingga langsung ke pabriknya. Dampak terhadap terhambatnya alur distribusi juga pada akhirnya menyebabkan kelangkaan,” ujarnya.

Selain itu, tidak kalah penting juga akibat pembatasan aktifitas publik berupa anjuran bahkan perintah bekerja dari rumah telah menjadi masalah bagi kalangan menengah ke bawah yang bekerja sebagai pedagang, sopir, ojek, pekerja serabutan, semua mereka yang pendapatannya harian bahkan berdasarkan jam bekerja. Karena hilangnya pendapatan. Sehingga kelangkaan kebutuhan alat kesehatan, dan bahan makanan tidak dapat terhindarkan. Untuk itu permohonan bantuan dan pemberian bantuan sosial menjadi satu-satunya harapan dan jalan keluar.

“Meskipun begitu di tengah kondisi yang serba mengkhwatirkan ini, masih ada harapan bagi bangsa Papua. Saya katakan ini sebagai harapan karena kita hidup diatas tanah yang dianugerahi oleh Tuhan layaknya tanah perjanjian yang dijanjikan Allah pada bangsa Israel. Tanah yang subur, air mengalir deras tanpa ada cerita kekeringan, semua tumbuh subur, rerumputan hijau, berbagai jenis binatang hidup bebas. Oleh karena itu hal ini merupakan hadiah yang tak terhingga dari Dia Yang Maha Esa,”papar Sonny.

Katanya, 21 persen luas Indonesia adalah tanah Papua. Dengan jumlah penduduk hanya 4,3 juta jiwa, dan tanah ini seolah menjadi pelindung yang luas bagi semua manusia yang hidup diatasnya. Kemudian ribuan tahun tanah ini menjadi idola yang diperebutkan berbagai bangsa, selama ribuan tahun pula bangsa asli di atas tanah ini hidup dalam kemandirian memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurutnya, bangsa Papua telah mengelola tanah ini untuk kelangsungan hidupnya puluhan generasi. Dengan cara membagi tanah ini atas nama suku dan marganya, termasuk didalamnya pembagian atas pengelolaan hutan bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya. Mulai dari memanfaatkan kayu pepohonan dan rumput untuk membangun tempat tinggal, berburu hewan di hutan, mencari ikan di sungai, serta meramu sagu untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Untuk itu kondisi alam dan faktor sejarah perebutan oleh berbagai bangsa asing telah membentuk karakter bangsa Papua menjadi kuat, bermental pejuang, dengan fisik yang kuat dan kekar, dan cobaan pandemik ini hanyalah cobaan kesekian bagi bangsa Papua.

“Oleh karenanya, saya yakin bahwa kita mampu melewatinya dengan semangat persaudaraan dan semua manfaat kehidupan yang disediakan oleh tanah Papua ini,” ungkapnya.

Lanjutnya, buktinya ketika pandemik Virus Covid 19 merebak di Asia Tenggara hingga ke Indonesia, masyarakat Papua serentak mendesak pemerintah daerahnya untuk menutup akses ke Papua. Hal ini karena masyarakat diatas tanah ini percaya bahwa mereka mampu hidup mandiri terutama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dari semua yang terkandung di atas dan di bawah permukaan tanah ini.

“Kekhawatiran pasti ada bahwa telah berpuluh tahun kita hidup dari ketergantungan akan semua alat pemenuhan kebutuhan yang dihasilkan oleh industri kapitalis yang tidak ada di atas tanah ini. Namun apakah semua sejarah masa lalu kita akan kemandirian pangan tidak ada artinya?. Hutan diatas tanah ini telah melahirkan ratusan generasi hingga kini, catatan sejarah yang tertulis oleh HW Bachtiar (1993), menjelaskan tentang interaksi bangsa Papua dengan bangsa lain yakni masa kerajaan Sriwijaya dan kekaisaran di Tiongkok, sejak abad 14, hingga masa kolonialisme oleh bangsa Eropa, semua itu karena mereka datang ke Papua untuk mencari alat pemenuhan kebutuhan mereka. Bahkan setelah integrasi pun, transmigrasi ke Papua tidak putus-putusnya dari masyarakat wilayah lain. Semua itu bukti bahwa tanah ini adalah tanah pemberi kehidupan bagi manusia diatasnya, maka di tengah pandemik Covid 19 ini saya sekedar ingin berbagi harapan bagi semua saudara setanah airku Papua, bahwa kita akan tetap hidup meski cobaan ini sangat mengerikan,” ungkapnya.

Sonny menyebutkan, semua yang ada diatas tanah Papua menjadi pelindungnya, rasa persaudaraan hingga semua kekayaan alamnya. Karena alam Papua masih menyediakan semua yang dibutuhkan orang Papua untuk terus hidup.

“Untuk itu saya harap bagi orang Papua kembali ke hutan dan kebunmu, ke pantai dan sungai untuk hidup dan melestarikan tradisi leluhur karena itulah kita dan itulah cara kita hidup. Pepohanannya menyediakan kayu untuk membangun rumah, tanahnya masih subur untuk ditanami sayuran, dan buah-buahan, kemudian Ikan-ikan masih bisa di jala dari sungai dan laut yang bersih, dan hewan masih bisa diburu atau diternakkan. Pohon sagu masih tumbuh dengan bebasnya. Sari sagu (Mahuze) yang sejak dahulu diolah menjadi Sagu Sep, Kumobo, Kaka, Siu dan Wanggilamo mengandung semua kebutuhan fisik orang Papua. Mulai dari karbohidrat, protein, kalsium, kalori, serta zat besi, dan semua itu dapat menjadi solusi di tengah krisis ekonomi global akan kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya yang sekarang sudah menghantui akibat penyebaran Covid-19,” tungkasnya.

Dampak dari pandemik ini Sonny berharap hal ini menjadi pengingat bagi orang Papua untuk melestarikan kembali tradisi leluhur. Kemidian para orangtua juga bisa mengajarkan pada anak-anaknya yang berlibur dari sekolahnya tentang cara bertani, melaut, menjala ikan, beternak, menganyam, mengolah kayu dan rotan, berburu, dan mengolah sagu menjadi makanan yang bergizi. Kelangkaan pangan akibat larangan aktifitas publik dapat diatasi dengan kembali mengkonsumsi makanan lokal Papua seperti singkong, ubi jalar, keladi, yang disediakan dari kebun masyarakat di pegunungan, dan juga masyarakat di pesisir menyediakan sagu yang telah diramu. Semua itu adalah makanan khas lokal orang Papua, yang dari berbagai hasil penelitian membuktikan jauh lebih bermanfaat bagi tubuh manusia dibandingkan dengan mengkonsumsi beras atau nasi.

Sonny mengatakan, Beternak babi atau hewan lain, serta penangkaran ikan bisa menjadi solusi pemenuhan gizi hewani. Di sisi lain juga menjadi upaya bersama untuk saling membantu sesama bangsa Papua dalam menyediakan pangan yang berbasis pada kearifan lokal yang diwariskan leluhur. Sehingga tidak terjebak dalam kelaparan.

“Kesemua itu adalah sebagai bukti bakti kita bangsa Papua kepada sang Maha Kuasa yang menghadiahkan seluruh cintanya di atas tanah ini. Tetap kita harus membatasi interaksi (social distancing) dengan orang lain agar Virus Covid 19 tidak menjangkiti Bapa, Mama, Pace, Mace, Adek semua, percayalah pelarangan ini tidak akan mengurangi rasa persaudaraan kita selama kita masih menerapkan cara hidup dalam pemenuhan kebutuhan pangan yang diwariskan leluhur kita. Karena bukti kemandirian pangan bangsa Papua, bukan bangsa pengemis yang hanya menanti bantuan dari pemerintah, atau bantuan dari para kapitalis. Kemandirian pangan yang telah diajarkan dan diwariskan oleh leluhur bangsa Papua harus dilestarikan, itulah alat pemersatu kita sesungguhnya sebagai bangsa Papua,” tutupnya.

Sekedar diketahui berita ini ditulis berdasarkan pikiran atau pemahaman Ketua DPRD Kabupaten Tolikara, Sonny Wanimbo dan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta, terkait warisan pangan leluhur yang dikemas dalam bentuk tulisan.(tinus/pri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s