Tokoh pemuda Papua imbau warga untuk jaga kerukunan hidup

Jayapura – Para tokoh pemuda yang ada di ibu kota Provinsi Papua, Kota Jayapura imbau warga untuk menjaga kedamaian dan kerukunan hidup di Bumi Cenderawasih.

Mereka adalah Ketua DPD Pemuda Mandala Trikora Provinsi Papua Alberth Ali Kabiay, Ketua DPN Pemuda Adat Papua Yan Christian Arebo dan Ketua Pemuda Barisan Merah Putih Max Abner Ohee.

“Kami inginkan agar kedamaian dan kerukunan hidup kita di Kota Jayapura dan daerah lainnya di Papua itu tetap terjaga, terutama pasca putusan hukum kepada tujuh terdakwa di PN Balikpapan, Kalimantan Timur pada Rabu pekan lalu,” kata Alberth Ali Kabiay.

Untuk itu, Alberth mengajak kepada para pemangku kepentingan untuk menjaga keharmonisan antarsesama warga pascakeputusan hukum kepada tujuh terdakwa terkait kasus demo antirasial yang berujung anarkhis di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan, Kaltim pada Rabu pekan lalu.

“Mari, para pemangku untuk menjaga kedamaian dan kenyamanan di Papua dengan memberikan imbauan yang menyejukkan bukan sebaliknya berbentuk provokatif sehingga bisa memicu masalah baru, pascasidang kepada tujuh terdakwa di PN Balikpapan,” katanya.

Menurut dia, semua pihak perlu menjaga kebhinekaan yang ada di Bumi Cenderawasih sehingga gaung Papua cinta damai bukan hanya slogan tetapi menjadi nyata ditengah masyarakat.

“Kepada para korban demo, kami ajak untuk menjaga hubungan yang harmonis satu sama lainnya dan kepada para tujuh terdakwa yang telah mendapatkan keputusan hukum agar tidak lagi berbuat hal yang bertentangan dengan pemerintah, sehingga nantinya bisa kembali ke Papua,” kata Alberth

Sementara, Yan Christian Arebo berharap agar keputusan hukum yang sudah diterima oleh ketujuh terdakwa kasus tolak demo anti rasisme yang berakhir anakrhis baik di Kota Jayapura, Wamena, dan daerah lainnya di Papua itu bisa diterima oleh semua pihak.

“Saya kira dengan tidak memperpanjang hal tersebut semua pihak ikut menjaga keamanan dan ketertiban di Tanah Papua.

Kita semua dengan lapang dada harus menerima keputusan itu supaya tidak ada efek lain. Dan kepada korban kita tahu mereka (para terdakwa) sudah menjalani proses hukum dan putusan hukum,” katanya.

Kini, kata dia, yang menjadi persoalan adalah bagaimana agar ketujuh terdakwa itu bisa menjalani sisa hukuman setelah dipotong masa tahanan, di lembaga pemasyarakatan yang ada di Provinsi Papua, agar bisa dekat dengan keluarga.

“Harapannya ini menjadi perhatian semua pihak, agar masalah ini bisa menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran dan kehidupan bermasyarakat bagi kita semua, agar masalah rasisme ini tidak terulang lagi dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Yan.

Sedangkan, Max Abner Ohee meminta, “Kepada seluruh pemuda dan warga di Papua khususnya di Kota Jayapura untuk sama-sama kita menjaga kedamaian dan ketertiban kota terlebih lagi jangan kita termakan dengan isu-isu rasisme terutama terkait keputusan pengadilan terhadap tujuh terdakwa di PN Balikpapan,” katanya.

Max yang didampingi menegaskan bahwa menjaga ketertiban dan kedamaian merupakan tanggungjawab bersama semua pemangku kepentingan, dari pada mementingkan ego pribadi, kelompok maupun golongan yang nantinya bisa membuat kehancuran.

“Kita hidup di Kota Jayapura bukan hanya individ-individu tertentu saja tetapi ingat ada orang tua, kaum perempuan dan anak-anak kecil yang merupakan masa depan bangsa, kita harus pikirkan mereka bersekolah. Ada juga yang bekerja untuk penuhi kebutuhan keluarga, jadi mari kita bergandengn tangan membangun Papua,” katanya yang juga ketua PAW Barisan Merah Putih (BMP).(Man/dsb)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s