BKPRMI Papua : Otsus harus dievaluasi secara total

JAYAPURA – Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Provinsi Papua berpendat bahwa Otonomi Khusus (Otsus) harus dievaluasi secara total karena berkaitan dengan pendidikan, ekonomi dan sosial budaya.

“Dibidang pendidikan perlu dievaluasi lagi, perlunya penambahan anggaran, diberikan beasiswa tepat sasaran dan beasiswa bukan lagi hanya fokus terhadap orang asli Papua tetapi kepada orang asli Papua dari garis mama dan bapa, dari patrlineal dan matrilineal,” kata Ketua Umum BKPRMI Provinsi Papua Irji Matdoan di Abepura, Kota Jayapura, Sabtu.

Sehingga ini memberikan ruang dan kesempatan bagi anak-anak yang keturunannya dari garis mama dan kemudian juga diberikan porsi kepada yang lahir dan besar di Papua dengan begitu SDM di Papua bisa lebih bersaing dan bersinergi dengan saudara-saudara di luar Papua.

“Lalu dibidang ekonomi, sebagaimana aturan yang sudah dibuat, bahwa ada penunjukkan langsung orang asli Papua untuk mendapatkan dan mengelola sebuah proyek. Ini seharusnya juga diberikan ruang yang sama kepada anak-anak Papua bukan saja dari keturunan bapa tapi dari keturunan mama juga, sehingga kita sama-sama membangun Papua,” katanya.

Harus juga dilihat bahwa di daerah pesisir, ngarai, dataran rendah dan tinggi hingga ke pegunungan harus juga diberikan ruang yang sama dan jangan sampai membedakan porsi sehingga saudara-saudara di gunung merasa belum terwakili dari manfaat Otsus sendiri.

“Selain itu pembangunan infrastruktur harus mengarah kearah pegunungan sehingga bisa dinimakti bagi saudara-saudara kita di pegunungan, karena terkesan pemimpin dan pejabat daerah kita lebih cenderung membangun di pusat-pusat kota, tidak membangun di pusat-pusat distrik dan kampung,” katanya.

Hal itu bisa dilihat dari pada infrastruktu kesehatan yang masih minim, puskesmas di tingkat kampung dan distrik terkesan tidak maksimal karena tidak mendapat dukungan atau perhatian yang memadai.

“Kemudian, kita juga harus menyekolahkan anak-anak asli Papua dibidang kesehatan khususnya para doktor untuk ambil spesialis agar mereka bisa kembali untuk mengabdi ke kampungnya lagi, ini kita harus prioritas berikan ruang dan tidak lagi menstransfer dokter dari luar, begitu juga guru kita harus cetak banyak, agar tidak berharap datang dari luar,” katanya.

Adanya suara minor soal penolakan Otsus, akademisi Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) itu mengaku wajar saja, karena kemungkinan besar belum merasakan manfaat Otsus itu sendiri.(Man)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s