JAYAPURA – Perkumpulan mubalig muda, Jaringan Mubaligh Muda Indonesia (JAMMI) mengapresiasi upaya tokoh agama Papua atas upaya menjaga kerukunan umat beragama di Papua merespon atas kejadian bom bunuh Makasar (28/3).

“JAMMI sangat mengapresiasi tokoh lintas agama Papua yang mengambil langkah sigap merangkul semua elemen Papua untuk menjaga kerukunan umat beragama di Papua,” imbuh koordinator nasional JAMMI, Irfaan Sanoesi.

Sebelumnya, tokoh lintas agama Papua mengutuk keras atas aksi bom bunuh diri yang terjadi di Makasar, Sulsel. Pernyataan sikap ini diprakarsai oleh tokoh Ketua MUI tokoh Gereja Katolik Papua, drg. Aloisius Giyai yang didampingi Ketua MUI Provinsi Papua KH Syaiful Islam Alpayage, Ketua DMI Provinsi Papua Dr H Mansur, Ketua LDII Provinsi Papua H Syaifullah, Ketua BKPRMI Provinsi Papua Lukman Nurdiansyah, Ketua Dewan Penasehat Kota Jayapura Drs Rusdianto dan Irji Matdoan.

JAMMI juga memuji himbauan tokoh Katolik Aloisius Giyai yang menghimbau agar umat beragama di Indonesia, khsususnya di Papua tidak terprovokasi oleh narasi-narasi yang berbau SARA yang mengadu domba. JAMMI menilai Peran tokoh lintas agama diperlukan guna mengeratkan persaudaraan dan menjaga keutuhan bangsa. Sikap tokoh lintas Papua tersebut, menurut JAMMI bisa menjadi contoh bagi umat beragama di seluruh daerah di Indonesia agar mengikuti langkah yang sama.

“Tujuannya adalah mengecam keras aksi teror dan ekstrem dan mempersempit ruang gerak para teroris di Indonesia. Tak ada ruang bagi ideologi terorisme dan ektremisme di Indonesia. Kita harus persempit ruang gerak mereka. Kita deklarasikan bahwa Indonesia adalah negara damai (darus salam) dan menjaga kerukunan bangsa Indonesia adalah sebuah kewajiban bagi setiap individu,” tegas Irfaan.

Menurutnya, Indonesia sudah ditakdirkan menjadi negeri yang majemuk yang harus disikapi secara bijak. Aksi bom bunuh diri di Makasar maupun di tempat lainnya bukanlah merupakan ajaran agama.

“Agama mengajarkan cinta dan kasih sayang. Sebab itu, kekerasan bukanlah berasal dari ajaran agama. Seumpama pelaku itu mengaku seorang muslim dan menganggap apa yang dia lakukan adalah sebuah bentuk jihad, maka dia salah berguru di pengajian. Makna jihad tidak sedangkal itu,” jelasnya.

Dia menerangkan bahwa inti dari ajaran Islam adalah cinta. Karena itu dalam Islam menurutnya, tidak mudah menyalahkan apalagi mengafirkan kelompok yang berbeda. Saling tenggang rasa dan menghormati adalah kunci dalam mengelola perbedaan.

“Mengelola perbedaan dengan sikap tenggang rasa dan saling menghormati. Bagaimana mungkin orang di luar Islam akan tertarik masuk Islam jika citra yang dibangun dalam bentuk kekerasan. Dengan demikian menjaga citra Islam adalah bagian dari maqashid syariah agar orang tertarik pada ajaran Islam,” ujarnya.

Dia mengungkapkan bahwa aksi bom bunuh diri sangat mencederai nilai-nilai kemanusiaan. JAMMI meminta agar polisi, TNI, BNPT, dan PPATK mengusut tunas akar, aktor intelektual, jaringan, bahkan sumber pendanaan kelompok terorisme.

“Dengan rendah hati kami meminta para kyai, ulama, habaib, dan tokoh lintas agama agar mengeratkan kembali tenun kebangsaan yang mulai terkoyak oleh aksi biadab ini.”

“Begitu juga pihak yang berwenang yang melakukan turun ke bawah menemui tokoh lintas agama patut dicontoh dan diapresiasi oleh semua pihak,” katanya dalam rilis yang diterima redaksi Sentaninews.co di Kota Jayapura, Kamis.(dsb/Man)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s