Apa yang dapat kita petik dan maknai dalam peristiwa Hari Kemerdekaan RI yang ke 76 ini. Ternyata setelah 76 tahun Indonesia merdeka dan kembalinya Papua secara ab initio dan sesuai prinsip internasional uti possideti juris masih saja terjadi konflik. Konflik ini sudah berlangsung 58 tahun lamanya sejak 1 Mei 1963.

Konflik-konflik yang terjadi di Indonesia setelah Indonesia merdeka memberikan pembelajaran bagi kita bahwa ke-Indonesiaan kita dalam hal berbangsa dan bernegara ternyata masih belum mapan dan dewasa, meskipun negara ini telah merdeka 76 tahun lamanya.

Presiden Soekarno pernah berkata, “Saudara sebangsa dan setanah air, kalau jadi Hindu, jangan jadi India, kalau jadi Islam, jangan jadi Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi Yahudi. Tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini. Ingatlah wahai saudara-saudara,…
Musuh yang terberat itu adalah rakyat sendiri…
Rakyat yang mabuk akan budaya luar…
Yang kecanduan agama,, yang rela membunuh banganya sendiri demi menegakan budaya asing. Tetaplah bersatu padu membangun negeri ini tanpa pertumpahan darah…..”

Sebagai suatu bangsa yang besar yang terdiri dari beragam etnis, suku dan agama, kita belum memahami secara baik dan benar makna sasanti Bhinneka Tunggal Ika ( Berbeda-beda tetapi tetap satu) yang diwariskan oleh pendiri negeri ini sebagai semboyan negara maupun dasar falsafah negara Pancasila serta UUD 1945.

Semestinya kita bisa menghayati dan mengimplementasikan falsafah Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara dalam kehidupan sehari-hari kita agar terbangun sebuah keharmonisan dan kerukunanan diantara sesama anak bangsa terutama generasi muda agar menjadi generasi milenial yang unggul dan yang paling utama adalah agar mencintai Indonesia.

Namun pada kenyataannya, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hingga kini, kita lebih sering terjangkit penyakit kronis yang laten dan turun temurun yaitu “AIDSS”. AIDSS yang dimaksud penulis adalah “ Angkuh, Iri, Dendam, Serakah dan Sara”. Sangat ironis!

Dalam visi Presiden Jokowi-Ma’Aruf Amin (2020-2024), salah satu butirnya adalah Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia. Harapan penulis adalah peningkatan SDM Indonesia bukan hanya dari aspek ilmu pengetahuan saja, tetapi juga peningkatan kualitas dalam hal pengahayatan terhadap nilai-nilai kebangsaan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika, agar menjadi manusia unggul yang rendah hati, bermartabat dan berakhlak mulia dalam membawa bangsa Indonesia terus kedepan agar dihormati dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Pada tatanan elit politik yang ada apabila tidak dikelola dengan baik bisa berdampak buruk pada rakyat kecil. Dari pengalaman empiris perpolitikan di Indonesia semakin terasa bahwa stabilitas politik terdapat pada ranah para elite. Untuk itu diharapkan bahwa para eilite politik di Indonesia ketika memberi pernyataan atau tanggapan harus bisa “menyejukan”, terutama dalam konteks Papua, kita harus lebih bijak dan berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan karena generasi milenial Indonesia saat ini semakin pintar dan kritis menelaah pernyataan-pernyataan yang ada.

Sudah selayaknya panggung politik yang ada dalam bangsa ini diberikan makna ke-Indonesiaan, bukan justru malah menyulut pertikaian atau perpecahan. Dinamika politik kadangkala berkembang secara tajam dan menyakitkan, tetapi harus ada batasan yang terukur untuk menghindari perpecahan diantara kita.

Sekali lagi, kita harus menghindari diri dari “politik adu domba” diantara kita yang merupakan warisan kolonial masa lalu agar tidak meracuni keharmonisan politik negeri ini dalam membangun Indonesia yang kita cintai bersama dalam era globlalisasi dewasa ini.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-76 Tahun, 17 Agustus 2021.

Jakarta, 17 Agustus 2021

Ketua Umum Forum Senior dan Milenial Papua

Ambassador Freddy Numberi

Laksamana Madya TNI (purn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s