Sentani – Ondofolo Yanto Khomlay Eluay mengharapkan sekaligus mengimbau agar masyarakat hukum adat Papua, menjaga dan menghormati tatanan dan nilai-nilai adat karena disitulah wibawa, harga diri, harkat dan martabat sebagai orang asli Papua (OAP).

Demikian hal ini disampaikan Yanto Eluay dalam siaran pers yang diterima redaksi Sentaninews.co di Jayapura, Senin (23/08) terkait sejumlah pernyataan di media oleh Malaikat Tabuni yang mengatasnamakan Ketua Asosiasi Kepala Suku Lima Wilayah Adat di Provinsi Papua.

“Melihat perkembangan saat ini mulai bermunculan organisasi atau lembaga yang mengunakan kapasitas adat. Ini sinyalemen yang perlu disikapi untuk mengingatkan kita agar tidak mencaplok jabatan-jabatan dalam struktur kepemimpinan adat secara tidak bermartabat dan digunakan untuk kepentingan-kepentingan pribadi dengan menggeneralisir masyararakat adat Papua,” katanya.

Menurut Yanto, ini suatu fenomena yang pernah muncul diawal-awal Otsus Papua jilid pertama, dimana banyak menjamur lembaga atau organisasi yang menggunakan label adat dan menjelang berakhirnya Otsus jilid 1 yang dinilai gagal atau tidak berhasil dengan adanya aksi-aksi penolakan Otsus.

“Lembaga atau organisasi itu, belakangan ini menghilang dan tidak bersuara, padahal mereka juga ikut menikmati dana Otsus.
Ini yang disebut Kepala Adat atau Kepala Suku Otsus, angkat diri punya jabatan adat, tanpa mekanisme adat yang berlaku dimasing-masing suku,” ujarnya.

Hal ini, lanjut Yanto, perlu menjadi perhatian dan pertimbangan bagi pemerintah khususnya dalam implementasi Otsus jilid 2. “Jangan lagi mengakomodir atau mendengar mereka, polanya langsung ke kampung-kampung bertemu kepala adat yang ada disana, jangan lagi kita mengulangi kesalahan masa lalu yang membuat masyarakat papua di kampung-kampung tetap menderita dan tidak sejahtera,” pintanya.

Kepada masyarakat Papua, anak dari tokoh pejuang Theys Hiyo Eluay itu, berharap juga untuk ikut dalam tindakan tersebut, tetapi mengontrol dan mengawasi serta berani mengkritisi, bila ada oknum-oknum yang mencaplok jabatan-jabatan adat.

“Sekali lagi saya pertegas kepada masyarakat adat jangan membawa-bawa jabatan adat, untuk kepentingan-kepentingan yang tidak berorientasi ke rakyat, jaga wibawamu sebagai masyarakat adat yang bermartabat dan beradab, bukan masyarakat adat yang tidak beradab atau biadab,” kata Ondofolo Yanto K. Eluay.

Sebagaimana dikutip dari Ceposonline.com dengan judul “Malaikat Angkat Bicara Minta Tim Koalisi Segera Tuntaskan Tugas”.

Disini, Malaikat Tabuni berbicara soal partai koalisi pengusung Gubernur Lukas Enembe dan Klemen Tinal (Almarhum) didesak segera menuntaskan nama yang akan diusung untuk diproses mengisi jabatan wakil gubernur yang lowong.

Mereka diminta tidak mengulur-ulur waktu mengingat Gubernur Lukas Enembe harus dibantu dalam menjalankan roda pemerintahan. Tidak bisa sendiri mengingat kondisi kesehatan gubernur masih dalam pemulihan dan belum 100 persen bisa menangani semua.

Ini disampaikan Ketua Asosiasi Kepala Suku Lima Wilayah Adat, Malaikat Alfius Tabuni yang menegaska untuk segera ada nama yang berproses di DPR Papua. Malaikat ketika itu didampingi Yohanes Douw selaku Kepala Suku Meepago Jayapura di Papua dan Dance Nouboba selaku tokoh masyarakat Saireri di Jayapura

“Papua zona damai dan miniature Indonesia karenanya dari 29 kabupaten kota semua dipimpin Gubernur Lukas Enembe dan Klemen Tinal namun setelah Wagub meninggal, sudah 40 hari dan partai koalisi belum menuntaskan pekerjaannya. Kami minta segera,” tegas Malaikat di Entrop, Sabtu (20/8) malam.(dsb/Man)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s